Tampilkan postingan dengan label cerita dari ku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita dari ku. Tampilkan semua postingan

Rabu, 03 Juni 2020

memories (Part 7)

rencana kami gagal
GAGAL TOTAL!!
bagaimana tidak,
mulanya aku dan dia berencana
akan bercerita banyak hal
mulai dari film itu
seri film yang sampai saat ini
aku tak diperbolehkannya menonton

Kamis, 26 Desember 2019

memories (Part 6)

pagi Jum'at itu aku bangun seperti biasanya
namun ada hal yang membuatku seketika tersenyum
today is the DAY
jam 7 nanti aku akan memulai perjalanan
perjalanan membelah kota ini


Selasa, 24 Desember 2019

memories (Part 5)

hisashiburi~
sudah 3 malam aku sakit
dan yang dapat kusanggupi hanya terbangun di 1/3 terakhir
aku tak kuat untuk berfikir menulis daily notes ini

awalnya flu, lalu batuk dan sakit kepala
disusul demam daaan, valla, sukses sakitnya
dan ternyata proses penyembuhan itu
butuh hati yang hepi
dan alhamdulillah hari ini aku bisa menulis kembali
let's get started .....
🔻🔻🔻 🔻🔻🔻 🔻🔻🔻

Minggu, 15 Desember 2019

After (Part 2)

bebijian kering usang dan tampak layu
yang dianggap benih cinta itu mulai melakukan imbibisi
yang semula ia kering dan berwarna gelap
kini mulai memasuki lingkungan yang berbeda
menerima keberadaan air adalah langkah awal
membiarkan air itu mengubah dirinya menjadi sosok yang elok dipandang
green creature

Sabtu, 14 Desember 2019

After (Part 1)

Lama sudah rasaya tidak menulis di dalam catatan ini
beberapa waktu lalu kucoba untuk menuangkan berbagai isi dalam sebuah buku
buku tersebut bersampul hitam
tentang sebuah kenangan yang mengingatkanku tentang seseorang
seorang manusia biasa

Rabu, 02 Januari 2013

untittled yet-PART 4


KuIKa kalau sudanh ngumpul, hebohnya mereka sulit ditandingi. Mereka bertiga bersekolah di SD yang sama, hanya saja ketika SMP sekolah mereka berbeda-beda. Selama tiga tahun itu mereka tidak tahu kabar satu dengan lainnya. Ketika SMA akhirnya nama KuIKa berdiri lagi. Berawal ketika Kanata menyanyikan lagu yang KuIKa ciptakan bertiga, hanya mereka yang tahu tentang lagu itu. Tak disangka, ternyata Kanata, Ikuto dan Kitoku sekelas. Dua bulan setelang pertemuan itu, mereka membuat grup band bernama KuIKa. Kanata sebagai Volakis sekaligus gitaris, Ikuto memegang keyboard, sedangkan Kitoku drummer.
Pukul 12 siang, KuIKa tiba di Tokyo. Mereka membicarakan sesuatu.
“Kita jadi ‘kan perform di festival sekolah dua bulan lagi?” ucaapan itu membuat Ikuto dan Kanata berpikir.
“Sebenarnya sich.... pengen-pengen aja. Cuma, kita harus tampil beda dari band-band lain yang ada di sekolah. Nggak mungkin dong, Kanata nampilin judo-nya, atau kemampuan basket Kitoku, ataupun panah aku...” kalimat-kalimat itu tidak mempengaruhi lamunan Kanata.
“Aku tahu... Kita tampilin lagu persatuan kita aja, lagu kenangan kita.” Akhirnya Kanata berpendapat.
“Waah... Ide bagus tuh!” dan sekali lagi, Ikuto dan Kitoku serempak. Lalu mereka bertiga tertawa ringan menuju rumah masing-masing.
~***~

Kamis, 25 Oktober 2012

cermin dan gigi

Assalamu'alaikum sobat blogger :)
semoga pada sehat wal 'afiat ya smuanya
btw, besok mau lebaran haji nih,
masa sakit sich :D
ayo, set fikiran kita
supaya besok bisa sembuh
semoga Allah mengizinkan
aamiin :)

okke lah, kali ini mau berbagi cerita
cerita ini nyata lho
terjadi satu malam yang lalu


Jumat, 31 Agustus 2012

untittled yet-PART 3


            Hari kamis pukul tujuh pagi. Kitoku, Ikuto dan Kanata, atau kita panggil KuIKa aja yach! Mereka bersepeda bersama menuju Taman Taitei, tempat KuIka biasa nangkring. Jaraknya lumayan jauh, sekitar 3 km dari rumah mereka. Di Taman Taitei, KuIKa berbaring di tepi kolam, lalu Ikuto menyanyikan sebuah lagu yang membuat mereka mengenang akan masa lalu.
            Tanggal 7 Maret, bisa dibilang empat hari lagi, kegiatan sekolah sudah dimulai. Musim salju yang menyenangkan telah berakhir dan KuIKa harus kembali tanggal 4 Maret ke Tokyo, mengawali semester genap  di masa SMA untuk pertama kalinya. Mereka harus puas-puas bermain sebelum kembali ke Tokyo esok hari.
            “Hmmm, apakah kita tidak bisa tinggal di sini beberapa hari lagi? Lima hari di Osaka terlalu cepat berlalu” ucap Ikuto yang sebenarnya ingin libur lebih lama.
            “Iya, lima hari enggak kerasa ya” Kanata angkat bicara.
            “Kalau aku sich enggak masalah, yang penting happy” Kitoku member pendapat.
            “Besok kita ke Tokyo, pulang yuk. Aku pengen beres-beres terus istirahat yang banyak, badan aku pegal-pegal nih” Kanata duduk dan menekan-nekan bahunya.
            “Kamu begadang lagi?” ucap Ikuto dan Kitoku serempak.
            “Ngapain aja? Baca komik?” tiga pertayaan.
            “Komik apa?” empat pertanyaan.
            “Karya siapa?” lima pertanyaan.
            “Boleh pinjam enggak?”
            Wajah kedua cowok ini semakin dekat, semakin dekat, dan semakin dekat dengan wajah Kanata. Dan akhirnya,
            “KOK COPY KATA-KATA AKU TERUS SICH?!” selesai sudah kumat kedua anak cowok ini. Kitoku dan Ikuto sering melakukan hal itu, sementara kedua cowok ini bertatap muka, selalu saja tiba-tiba.
            “Huahahahahaha!!” Kanata tertawa terbahak-bahak sambil memegan perutnya. Setelah suasana lebih rileks, KRUYUUUUK!! Cacing-cacing di dalam perut KuIKa mulai parade.
            “Pulang yuk, laper nih” Kanata mulai berdiri lalu diikuti kedua sahabatnya.
Kali ini Kanata tidak duduk manis di belakang dia meminjam sepeda Ikuto. Sementara Ikuto dan Kitoku sudah lebih dulu meninggalkan Kanata. Kanata yang merasa kesal telah ditinggal mengerahkan seluruh tenaganya untuk mengayuh pedal sepeda. Yup! Kanata mendahului Ikuto dan Kitoku. Tetapi kelegaan itu hana sesaat. GUBRAKK!!! Kanata terjatuh dari sepeda karena jalan bergelombang dan terseret sejauh dua meter. Tangan kirinya lecet, menampakkan bercak darah.
“Kenapa bisa jatuh sich? Kayak anak kecil aja” ucap Ikuto sambil mengikatkan sobekan lengan kiri bajunya untuk menutup luka Kanata.
“Lho? Topiku mana?” kata Kanata sambil meraba kepalanya hingga ujung rambut.
“Nih” Kitoku memasangkan topi tersebut di kepala Kanata.
“Ayo naik” lalu KuIKa pulang ke rumah neneknya Kanata sambil melantunkan lagu kesukaan masing-masing.
~***~

Senin, 20 Agustus 2012

untittled yet-PART 2 (perkenalan)



            Kawamura Kanata, anak kedua di keluarga Kawamura. Ketika masih kelas 1 SMP ia selalu digencat oleh kakak kelasnya. Rambutnya yang ketika itu sepinggang sering dijambak, dipotong, dan lain-lain. Sungguh menyedihkan dirinya saat itu. Namun, kini Kanata adalah cewek cantik berambut panjang yang mahir judo (ilmu bela diri dari Jepang). Kanata merupakan siswi SMA yang aktif sebagai sekretaris OSIS, ia juga menjadi gitaris sekaligus vokalis grup band KuIKa (Kitoku Ikuto Kanata).
            Mizukami Kitoku adalah anak tunggal keluarga Mizukami. Ia adalah kapten tim basket Aoyama Gakuen. Ia amat terkenal di kalangan para cewek. Selain jago basket, Kitoku juga mahir matematika, ia pernah mengikuti olimpiade tingkat nasional, namun hanya mendapat peringkat ketiga. Sebenarnya cukup memuaskan, hanya saja Kitoku memang seperti itu.
            Dan yang terakhir, Kisagura Ikuto. Cowok yang satu ini tak kalah beken dari Kitoku. Ikuto adalah wakil ketua OSIS Aoyama Gakuen. Cowok ini memakai kaca mata minus 0,75. Sebenarnya ia lebih manis melepas kaca matanya, begitu pikirku (penulis). Ikuto mahir memanah, tetapi ia tidak mau menjadi ketua klub panahan, mungkin karena kesibukannya di OSIS.
            Huh! Akhirnya, usai juga perkenalannya. Mari kita mulai asam-manisnya persahabatan mereka bertiga.
~***~

Sabtu, 18 Agustus 2012

untittled yet-PART 1 (prolog)


Pagi itu udara sangat sejuk. Kemana mata memandang hanya terlihat beberapa rumah penduduk dan pepohonan hijau yang rindang. Kicauan burung yang bersahut-sahutan membuat hati gembira.
            Seorang gadis kecil sedang melamun memandang keluar jendela, menghirup udara pagi yang segar nan jauh hiruk pikuk sebuah kota. Ia melantunkan lagu penyanyi favoritnya, Utada Hikaru, yang berjudul “First Love”. Sang angin pagi menyapa dengan lembut sembari membelai rambut panjang si gadis kecil yang hamper selutut.
            Disapa angin musim semi membuat membuat dia memejamkan matanya yang berwarna kecoklatan. Gadis kecil terus bernyanyi seakan-akan sedang paduan suara bersama peliharaan kesayangannya, Shiro. Si gadis kecil mulai menekan suaranya
                        Ashita no ima koro ni wa
                        Anata wa doko ni iru’n darou
                        Dare wo omoi...
            “AWW!!” sebuah batu kecil menyapa pipinya. Hampir saja ia jatuh dari lantai dua. Mukanya yang manis hilang entah kemana, hanya dalam sekejap mata.
            “Ohayou gozaimasu Nata-chan.” suara tersebut tidak asing lagi di telinga Kanata.
            “Kitou? Ikuto? Sejak kapan kalian di sana?” mukanya merah padam. Ia malu, sahabatnya mendengarnya bernyanyi.
            “Sampai kapan kamu mau jadi patung? Ayo pergi!” ucap Kitoku membuat Kanata segera masuk ke dalam kamar. Dia mengenakan jaket garis-garis hitam-putih dan topi hitam kesayangannya.
            “Bu, Nata pergi dulu.” Kanata segera menyalami tangan ibunya.
            “Hati-hati, ya, Nata” Ibu mengelus rambut panjang Kanata yang terurai.
            “Yuk!” Kanata menaiki sepeda Kitoku, lalu mereka bertiga pergi bersama.
~***~

Senin, 13 Agustus 2012

merindu

jalanan beraspal hitam
langit malam yang gelap
udara yang dipenuhi polusi
decit rem kendaraan bermotor
jalanan yang basah setelah hujan

aku merindukannya

Kamis, 19 Juli 2012

terima kasih do'anya, alhamdulillah terkabul


“kakak......” menatap seseorang yang sedari tadi mengelus lembut kepalanya.
“iya adek sayang” menatap wajah lugu seseorang yang sangat dia sayanginya.
“........” membuang muka. Diam seribu bahasa.
“ada apa adikku?” masih mengelus lembut kepalanya.
“........” hanya menggelengkan kepala, lalu membalik dan memeluk tubuh seseorang yang selalu melindunginya itu.
“.........” tersenyum, masih mengelus lembut kepalanya.
“adek sayang kakak” sambil mempererat pelukan itu, tenggelam dalam rasa kasih sayang yang selelu mengalir.
“kakak juga sayang adik kakak yang manis ini” mencubit pipi yang merah merona itu, lalu memeluk erat tubuh mungil itu.

Jumat, 06 Juli 2012

bebek bebek bebek


ini tima buat sejak pagi agak siang kemarin, baru bisa diterbitkan pagi ini di first post, baru di blog ini.
semoga bermanfaat ya :)

inspirasinya muncul pas lagi nonton sp*otline, trus ada ditampilin kutipan tentang bebek, muncul deh kata-kata yang panjangnya dua lembar A4, oret-oret dikite, jadi deh, hahahaha.
sebagian kecil kata-katanya di coret di kertas, ngerjainnya pas lagi di tangga samping sambil nikmatin hembusan angin dan pemandangan dari ketinggian, kebetulan tanah di sini lebih tinggi, walau sebenarnya banyak rumah yang punya lantai atas tapi karena datarannya tadi, jadi kelihatan deh.

pengen banget kasih pola pandang ini ke banyak orang, jadi diterbitkan di sana-sini.
well, selamat membaca ^^

Kamis, 07 Juni 2012

kegundahan meliputi

#perasaan kalut melanda
tak tau harus berbuat apa
menulispun tak kuasa
berteriak apa lagi tak bisa
ingin aku membenamkan muka
melepas sesak di dada

Minggu, 03 Juni 2012

no galau :D

suatu hari
di gubuk sunyi
ditemani ilalang tinggi dan sang bulan
juga sang angin menyapa riang
seorang anak bertanya pada ibunya
"ibu, bolehkah aku bermimpi?"
"kalau boleh ibu tau, mimpi apa itu ananda?"
"nanda ingin ibu dan ayah bersama"
sang ibu diam
namun tetap mengelus kepala anaknya
"nanda tidak ingin menjadi kaya seperti mereka yang ada di kota"
sang ibu masih diam
tak tau harus berkata apa
"harta nanda adalah cinta kasih ibu dan ayah"
angin seolah berhenti berhembus
waktu seketika terasa berhenti berlalu
tetesan air mata yang membendung semua rasa
pecah menyeruak di atas bumi


Jumat, 01 Juni 2012

kisah tanpa judul

Belaian lembut semilir angin di pagi hari agaknya membuat hati ini lebih tenang. sinar mentari pun terpantul dari cermin datar yang terpajang tepat behadapan dengan jendela. lingkar hitam dan bengkak di mata tampaknya sudah memudar. kusematkan sebuah benda mungil pada jilbab yang ku kenakan.
   "selesai sudah" ucapku dengan bayanganku yang terpantul dari cermin.
   "tok! tok! tok! rina... kamu sudah siap sayang?" suara yang begitu lembut terdengar dari balik pintu.
   "iya ma, ini rina udah siap" aku berlari kecil keluar kamar.
   "waah! kamu mengenakannya" aku hanya tersenyum ketika mama melihat bros jilbab mungil yang ku sematkan tadi, "sayang sekali ya, padahal hari ini ulang tahun mu"
  "sudahlah ma. tidak apa-apa" aku berusaha memperlihatkan senyumku yang paling manis. meski aku tau, mama sangat mengetahui jelas bagaimana suasana hatiku sekarang.
   "ayo kita susul kakak mu" mama mengambil tas lalu mengunci pintu rumah.
Kami pergi dengan berjalan kaki menuju bandara. selama perjalanan, baik mama maupun aku tidak ada yang berbicara. aku berjalan melihat langkah kakiku, tenggelam dan larut dalam pikiranku sendiri.

#

   "mama... rina..." seseorang yang kukenali melambai ke arah kami. "waah! tumben kamu cepat banget buka kadonya, biasanya diperam dulu sampai berjamur"
Dia dan aku, kami saudara kembar. rani adalah kakak dan aku, rina, adik. waktu kelahiran kami berselang empat menit, tapi antara kelahiranku dan kak rani seperti berjarak satu hari. hari ini, 17 Januari, hari kelahiranku, tapi...
   "hehehe" aku sadar dari lamunanku ketika kak rani mengelus kepalaku. "tentu saja, rina ingin kakak senang melihat rina menggunakan hadiah ulang tahun dari kakak" ingin aku mengucapkan apa yang ada di hati dan pikiranku.
Sebentar lagi, kak rani dan aku akan berpisah sangat jauh, berpisahkan samudra. kak rani begitu pintar dan cerdas, dia mendapatkan beasiswa ke Jepang, negara yang ku sukai dengan sakuranya yang bermekaran serta salju.
   "kakak bawakan kamu sakura dan salju kalau pulang deh" katanya. aku hanya tersenyum, tak mampu mengatakan apapun.
Dia pun perlahan menghilang dari pandanganku, membumbung tinggi melewati awan seputih salju.

#

Lima tahun sudah berlalu. dengan tetap berkomunikasi melalui email dan berbagai jejaring sosial, meski tak jarang kak rani tak membalas, "mungkin sedang sibuk" pikirku. setahun sekali kak rani pulang saat libur musim panas di Jepang dan hari raya. terkadang hanya satu kali, saat Hari Raya Idul Fitri saja. meskipun begitu, aku sangat senang sekali. meski tahun kemarin kami menghabiskan waktu dengan bolak-balik rumah sakit.
Sudah dua hari aku keluar dari rumah sakit, aku rasanya sangat sehat hari ini. "besok kak rani pulang, rina buat kue aah" pikirku. aku pergi sendiri membeli bahan untuk membuat kue, meski siang itu cukup terik.
Sesampainya di rumah, tidak ada yang menjawab salamku, "tampaknya semuanya sudah pergi kerja dan ke sekolah. tapi tak apa lah, aku bisa melakukannya sendiri!" aku mengepalkan tangan. dengan semangat dan keterampilan memasak seadanya aku berusaha membuat kue itu. dengan berbekal sering memperhatikan mama membuat kue dan tips-tips yang mama katakan kepada ku, aku melakukannya persis seperti apa yang mama lakukan.

#

Tak terasa, dua jam telah berlalu. kue yang sedari tadi sudah matang dan aku hiasi kini hanya tinggal diberi sentuhan akhir. "haa... sudah selesai...." batinku. aku memasukkannya ke dalam lemari es, agar bahan-bahannya tidak mencair di tengah suhu panas siang menjelang sore ini.
Aku duduk lega setelah selesai membersihkan dan merapikan segala perkakas dapur yang ku gunakan tadi, cukup lama. keringatku begitu banyak mengalir. mungkin apabila dikumpulkan, keringat ini mampu memadamkan 20 batang lilin yang menyala. ku pikir ini pertanda aku semakin baik, namun aku mengabaikan kenyataan bahwa fisik ini sudah melemah.
Aku terjatuh ketika hendak memasuki kamar, tepat di pintu. darah mengalir dari hidung hingga ke bajuku, itu yang mama katakan ketika aku sadar.
   "rina jangan sampai kecapekan ya sayang. besok kak rani pulang, rina ga mau dia sedih melihat rina seperti ini kan?"
   "iya ma" ucapku sambil tersenyum ke arah mama.
   "nah, rina sekarang istirahat yang cukup ya" lalu mama keluar kamar setelah mengecup keningku.

#

Keesokan harinya, aku membersihkan kamar. karena aku tidak ingin terlihat amburadul ketika kak rani masuk ke kamarku. tak sadar, aku telah melanggarnya lagi. aku dibawa ke rumah sakit karena darah segar keluar lagi dari hidungku, kali ini lebih banyak dari yang sebelumnya. di sana aku diberi suntikan dan aku harus dirawat malam itu. sore itu aku sudah sadar dari pengaruh obat tidur yang diberikan dokter. hanya ada mama di samping ku.
   "ma, kak rani udah pulang?"
   "sayang, kamu istirahat dulu ya. kak rani bakal pulang kok. dia kan sudah wisuda. rina jangan memaksakan diri ya sayang, kalau kak rani liat rina seperti ini, dia bakal sedih" mama mencoba menghibur ku.
Aku hanya diam. "apa kak rani tidak akan pulang musim panas ini? tapi kan kakak sudah wisuda. apa kakak tidak ingin bertemu rina dan yang lainnya? kenapa kakak belum pulang juga? apa kakak lebih menyukai Jepang? kenapa kak??? kenapa kakak tidak pernah lagi membalas pesanku? kenapa kakak lebih sering diam ketika kita berbicara di telepon? kenapa kak??" pertanyaan demi pertanyaan muncul bertubi-tubi dari dalam benakku. aku menangis, tak mampu menemukan jawaban pertanyaan-pertanyaan itu, hingga aku terpejam dalam tidurku.

#

   "ma, kak rani udah pulang?" aku membuyarkan lamunan mama.
Sejak tadi pagi mama hanya melihat keluar jendela ruang rawatku, sorot matanya sangat jauh seakan-akan ingin mengetahui sesuatu yang berada di balik langit.
Mama hanya tersenyum. tak mengucapkan kata apapun. wajahnya yang lembut semakin lama menampakkan gurat letih yang amat sangat. aku hanya tertunduk, meski sedari tadi aku menggenggam sebuah buku tak satu kata pun yang kubaca, pikiranku melayang jauh.
Sudah tiga hari aku dirawat di rumah sakit ini. rasanya seperti menghabiskan bertahun-tahun kehidupanku. orang yang kutunggu-tunggu tak kunjung datang. ingin rasanya aku berlari menemuinya, menyusuri jalanan demi mencarinya. "tapi tidak bisa!" aku dijerat bermacam selang, aku diatur oleh jadwal, aku dikontrol obat dan suntikan. "tuhan... kenapa ini begitu sulit?" aku berusaha menahan tangisku, setidaknya ketika mama ada di sampingku dengan pandangan mata seperti itu.
Aku terus berusaha menahan tangisku, hingga akhirnya aku terlelap.

#

Hari ini hari keempat aku dirawat, tak ada kemajuan. bagaimana bisa, ragaku memang tidak melakukan apa pun tapi pikiran ku selalu bekerja keras tiap hari, tiap saat aku terjaga.
"kakak, kak rani di mana? rina selalu menunggu kakak. kakak di mana?" aku tidak sanggup lagi "aku ingin keluar!"
Pagi itu masih sangat sepi, sekitar pukul enam. aku mencabut selang berjarum yang menembus kulitku selama ini. cukup sakit rasanya dan darah merembes begitu cepat, sampai-sampai aku harus menggunakan handu kecil untuk menghambat sekaligus menutupinya.
Setelah melihat keadaan sekitar, aku berusaha keluar dari kamar rawatku. dengan berlagak sok sehat agar tidak dicurigai perawat yang sedari tadi hilir mudik, aku menyusuri koridor menuju pintu depan. terus ke pekarangan. terus ke ruang depan. terus ke pekarangan yang lebih besar. sedikit lagi, pagar depan sedikit lagi. aku merasakan seseorang menarik lenganku dari belakang. belum sempat aku melihat wajahnya pandangan hitam menyelimutiku.

#

Mataku tak dapat kubuka, namun aku masih bisa mendengarkan sayup-sayup suara mama, kakak perawat, dan bu dokter yang saling bercakap-cakap. "ada apa ini?" batinku. aku tak bisa membuka mataku. "mama tolong rina...."
Aku dapat merasakan rasa yang aneh meliputi isi kepalaku. "ada apa ini? apakah aku dibius?" tak lama berselang aku menemukan sebuah taman bunga indah, berwarna kuning, mereah jambu, hijau, ungu, warna-warna yang beragam. kupu-kupu beterbangan kian kemari, warna langit yang cerah disertai semilir angin yang menyejukkan hati. kulihat ada seseorang di sana, seorang wanita, sedang memetik bunga. sepertinya aku mengenalnya, kudekati dia.
   "kakak......" sapaku.
Dia tidak menoleh sedikitpun. semakin kuperpendek jarak yang memisahkan kami. kupegang bahunya. tak bisa! aku tidak bisa menyentuhnya. berkali kali aku berusaha, tapi tak bisa. air mata mengalir deras, aku ta bisa menyentuhnya. aku berusaha memeluknya, tapi tak bisa. aku berusaha, terus berusaha, tapi aku sama sekali tidak bisa menyentuhnya.
   "KAKAAAAAAK!!!" aku terduduk, nafasku tersenggal. air mataku tumpah bercampur dengan keringat dingin di wajahku. aku hanya bisa menangis, di sudut ruangan, tanpa seorang pun yang menemani.

#

Dua hari setelah mimpi yang memilukan itu, aku diperbolehkan pulang oleh pihak rumah sakit. tak ada seorang pun yang kuceritakan tentang mimpi itu. aku menutupinya dengan senyuman palsu, tapi tampaknya tak ada seorangpun yang menyadarinya.
Setibanya di rumah, aku membuka lemari es, kue yang kubuat sudah sangat keras seperti es batu. "berarti kakak belum pulang" pikirku, lalu aku menutupnya kembali dan beranjak ke kamarku di lantai atas. "kak, kapan kakak pulang?" aku menghempaskan diriku di kasur yang sudah empat malam tidak kupakai. dan segera aku terlelap dalam air mata pilu yang menemaniku.

#

  "rina, bangun sayang..." mama membangunkanku.
  "ada apa ma?" kulirik jam tangan yang tak sempat kulepas sebelum tidur tadi. "ini masih jam satu ma."
  "kakak kamu sayang"
Aku sepenuhnya terjaga sekarang. pikiranku melayang, membayangkan hal buruk terjadi pada kakakku, kembaranku. air mata ini sulit ku tahan, aku tidak ingin lebih menyusahkan mama.